Posted by: Akhmad KHUSYAIRI | March 17, 2011

Catatan Kecil tentang ledakan hidrogen pada PLTN Fukushima

Fukushima terletak di bagian selatan wilayah Tohoku Jepang, di pulau utama Honshu. Fukushima berhadapan langsung Samudra Pasifik. Fukushima  terletak  200 kilometer dari ibukota Jepang Tokyo.

 

Nuclear Power Plant Fukushima I (PLTN Fukushima I) memiliki 6 reaktor yang semuanya bertype sama yaitu Boiling Water Reactor, dengan masing-masing daya sebagai berikut:

Fukushima I-1, 460 Mwe,    dibangun pada 1967 dan beroperasi komersil pada 26 Maret 1971

Fukushima I-2, 784 Mwe     dibangun pada 1969 dan beroperasi komersil pada 18 Maret 1974

Fukushima I-3, 784 Mwe     dibangun pada 1970 dan beroperasi komersil pada 27 Maret 1976

Fukushima I-4, 784 Mwe     dibangun pada 1973 dan beroperasi komersil pada 18 Oktober 1978

Fukushima I-5, 784 Mwe     dibangun pada 1977 dan beroperasi komersil pada 12 April  1978

Fukushima I-6, 1.100 Mwe  dibangun pada 1979 dan beroperasi komersil pada 24 Oktober 1979,

 

disamping keenam reaktor yang beroperasi, saat ini telah direncanakan pembangunan 2 unit PLTN bertype ABWR dengan daya masing-masing 1.380 Mwe.

 

Pada 11 Maret 2011 pukul 14.46 waktu setempat, terjadi gempa bumi dengan kekuatan 9.0 SR yang mengguncang Fukushima dan beberapa saat kemudian diikuti datangnya Tsunami yang cukup besar. Pada saat terjadinya gempa, kondisi reaktor 1-3 beroperasi normal sedangkan rekator 4-6 dalam kondisi shut down karena menjalani program maintenance rutin sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Pada saat terjadinya gempa tersebut, sensor gempa, sebagai salah satu system keselamatan, yang dipasang pada tiap-tiap reaktor memberikan sinyal pada system keselamatan, sehingga otomatis reaktor mengalami SCRAM dan reaktor padam.

 

Ketika reaktor padam (shut down), masih terdapat panas sisa (decay heat) yang muncul akibat dari peluruhan, bukan akibat dari reaksi fisi. Oleh karena itu masih diperlukan pendinginan agar panas yang dihasilkan dapat dibuang.

 

Beberapa menit setelah terjadi gempa pendinginan tetap dapat dilakukan dengan mendapat pasokan listrik untuk pompa pendingin berasal dari genset. Ketika terjadi tsunami, maka bangunan genset terbanjiri oleh air tsunami sehingga merusak kumparan genset, akibatnya pasokan listrik yang dibutuhkan untuk pompa pendingin mengalami gangguan.

 

Akiba pembuangan panas sisa (decay heat) terganggu, maka akumulasi panas dalam tanki reaktor(raector vessel)  meningkat dan diiringi dengan peningkatan tekanan dalam tanki reaktor. Tanki reaktor BWR yang digunakan pada PLTN Fukushima I-1 bekerja pada operasi normal bertekanan 400 kPa (4 bar),

Evakuasi terhadap penduduk sekitar, sekitar 170.000-200.000), yang dilakukan adalah prosedur standar keselamatan yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya paparan radiasi terhadap masyarakat. Evakuasi dilakukan pada radius 10 km dari tapak PLTN.

 

Pada tanggal 12 Maret 2011, pukul 05.30, tekanan pada tanki reaktor sebesar 820 kPa, nilai ini 2,1 kali dari tekanan operasi normal. Oleh karena itu diperlukan upaya menurunkan tekanan guna mengurangi beban tekan pada tanki reaktor dengan cara venting (membuka release valve), dan bila ini tidak dilakukan maka resikonya adalah terjadinya kegagalan pada reactor vessel. Akibat dilakukannya venting, maka hidrogen yang terdapat didalam reactor vessel terlepas ke atmosfer dan tejadi akumulasi pada atap rangka baja sehingga  terjadi ledakan hidrogen yang merupakan reaksi kimia (reaksi pembakaran) hidrogen dan oksigen, sehingga muncul efek kebakaran pada atap baja gedung reaktor, namun reactor contaiment tetap utuh. Akibat dari ledakan hidrogen tersebut, melukai 4 pekerja (media massa Indonesia menyebut 4 orang terpapar radiasi, hal ini tidak benar). Akibat dari venting ini maka jumlah air pendingin didalam reactor vessel berkurang, oleh karenanya diperlukan penambahan air kedalam reactor vessel melalui pompa pemadam kebakaran dengan menggunakan air laut.

 

Pada tanggal 13 Maret 2011, pukul 13.00 waktu setempat, telah dilaporkan bahwa reaktor 1 dan 3 telah dilakukan venting dan pengisian air menggunakan air laut dan boric acid, dan reaktor nomor 2 dilaporkan dalam kondisi stabil. Japan Atomic Energy Agency bahwa kondisi reaktor 1 dan 3 pada level 4 skala kecelakan nuklir(INES), dengan konsekwensi lokal.

 

Pada tanggal 14 Maret 2011, terjadi ledakan pada gedung reaktor nomor 3 dengan melukai 11 orang dan dinyatakan tidaka ada kebocoran radioaktiv ke lingkungan. Ledakan ini megakibatkan kerusakan pada sistem suplply pendingin reaktor no 2.

 

Pada tanggal 15 Maret 2011, tejadi ledakan hidrogen pada gedung reaktor nomor 2 setelah dilakukan venting untuk menurunkan tekanan pada reactor vessel. Terjadi kebakaran pada reaktor nomor  4dan sedikit mengenai bahan bakar bekas dari reaktor, yang biasanya disimpan di kolampendingin  bahan bakar berisi air. Paparan Radiasi di dalam instalasi naik secara signifikan tetapi sesaat kemudian turun. Laju  dosis radiasi ekuivalen yang diamati pada di sekitar Unit 3 adalah 400 millisievert per jam (400 mSv / jam).

 

Untuk sementara ini dulu….InsyaAllah akan diinformasikan secepatnya jika ada informasi signifikan yang terbaru.

 


Responses

  1. mantap nDan….
    sy tunggu cerita2 menarik ttg nuke, semoga mencerahkan bangsa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: