Posted by: Akhmad KHUSYAIRI | March 26, 2011

Update catatan kecil ledakan hidrogen PLTN Fukushima I, per 26 Maret 2011( 09.30 WIB)

Dear blog visitor,

Berikut perkembangan kondisi PLTN Fukushima I per 26 Maret 2011 pukul 09.30 WIB:

25 Maret 2011 : Reaktor Units 1, 2 dan  3  diduga mengalami kebocoran pada  containment vessels.  NISA (Badan pengawas Jepang) menyatakan bahwa terjadi kebocoran pada containment vessel reaktor unit 3, satu-satunya reaktor yang menggunakan bahan bakar campuran plutonium (MOX). Pejabat resmi Jepang menduga telah terjadi kebocoran radiasi.

Koran setempat,  Kyodo News melaporkan bahwa air radioaktiv ditemukan pada gedung turbin pada reaktor  unit 1 dan unit 2.  Sebanyak 500,000 gallons air pendingin saat ini telah dikirim melalui kapal ke reaktor Fukushima, diharapkan air pendingin akan datang dalam 2 hari.

Pemerintah Jepang menyatakan bahwa akan disediakan transportasi  bagi yang bersedia melakukan evakuasi secara sukarela pada  zona evakuasi  30 kilometres (19 mi).

Dilaporkan bahwa air ledeng di Tokyo dan Chiba saat ini telah aman unuk dikonsumsi bayi, namun di Hotachi dan Tokaimura masih melebihi nilai ambang yang diizinkan.

 

Salam,

AK


Responses

  1. Selamat pagi pak Akhmad,
    seberapa buruk prediksinya tentang reactor problem di Fukushima ini?
    Plutonium mix (MOX) jauh lebih buruk effeknya, seberapa buruj dibandingkan Uranium?
    Mengapa reactors ini ‘meli down’ dan bukannya meledak ??,
    terimakasih,
    asyah1766@gmail.com

  2. Selamat pagi juga,
    Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya pada blog kami

    Penggunaan Plutonium dalam campuran bahan bakar MOX digunakan dengan beberapa alasan, dua diantaranya adalah; masalah pengendalian penggunaan plutonium untuk persenjataan, yang kedua adalah alasan konduktivitas thermal yang dimiliki bahan bakar type MOX yang dapat menghasilkan suhu yang lebih panas.

    Prediksi terburuk dari PLTN Fukushima, jika dilihat dari perkembangan day by day, maka kondisi PLTN Fukushima saat ini sudah mulai dapat diatasi, dan insyaAllah tidak akan seburuk kondisi yang pernah terjadi di Chernobyl. Hal ini dikarenakan disamping desain reaktor yang berbeda, safety systemnya juga mempunyai perbedaan yang cukup signifikan.
    Memang sebagian kecil bahan bakar ada yang rusak, namun masih terkungkung dalam Reactor Pressure Vessel.

    Dari aspek resiko, keduanya saya pikir relatif sama, tapi dari segi produksi plutonium, bahan bakar type ini tidak menambahkan kandungan plutonium setelah dibakar dalam teras (core) reaktor.

    Mengapa reaktor ini melt down, tidak meledak?
    Terjadinya ledakan disebabkan karena tekanan yang tinggi. Pada reactor unit 3, kondisi tekanan dalam RPV telah diturunkan dengan cara venting (meskipun resikonya terjadi ledakan hidrogen) sehingga tekanan dalam RPV masih dibawah tekanan desain.

    Melt down; melt down adalah kondisi dimana bahan bakar mengalami pelelehan, hal ini terjadi karena suhu bahan bakar melampau suhu leleh dari bahan bakar. Kenaikan suhu pada bahan bakar karena sistem pendingin mengalami kedadalan yg disebabkan karena tidak adanya pasokan listri. Kenaikan suhu ini meningkatkan tekanan dalam RPV, agar tidak pecah RPV maka dilakukan venting, akibat dari venting ini, selain ledakan hidrogen, terjadi penurunan level air yang merendam bahan bakar, bagian atas dari bahan bakar yang tidak terendam mengalami melt down (pelelehan).

    Tks,

    Salam,
    AK

  3. Terimakasih atas jawabannya,
    Pak Akhmad, semula saya mengira, bahwa uranium/plutonium sebagai bahan eksplosif tinggi/sensitif, apabila terkena tekanan tinggi ditambah panas yang tinggi, akan meledak seperti bom, tapi untunglah, ternyata, bisa meleleh seperti itu, meskipun tetap saja bisa sangat membahayakan.
    Baru saja tadi, saya membaca, bahwa mereka (TEPCO), menguras reaktornya, dan ‘sepertinya’membuang air tersebut ke lautan. Wah, tentunya itu polusi yang serius, apakah demikian?. Saya kira, polusi tersebut sangat tidak aman bagi lautan dengan kehidupan didalam lautnya. Tetapi, tentu saja saya setuju kalau hal tersebut ditutupi, karena biar bagaimanapun, perlindungan terhadap keselamatan manusia masih lebih penting.
    Dari semula, kuat terpikir, mengapa mereka tidak kosongkan saja air pendingin yang sudah panas itu dan masukkan air dingin yang baru, tentunya akan banyak membantu. Tetapi mungkin, polusi air itulah yang mereka pertimbangkan.
    Menurut Pak Akhmad, seburuk apa yang bisa terjadi seandainya ‘tons of radiated water’ seperti itu dibuang kelaut?

    Dalam banyak hal saya mengagumi sekali kualitas SDM bangsa Jepang ini, mereka luarbiasa. Sehingga saya percaya, bahwa mereka akan melakukan yang terbaik, dengan kesungguhan, loyalitas dan keuletan.
    Salam,

  4. Terimakasih atas response nya,

    Memang akan sangat buruk sekali jika air reaktor yang akan dikras tersebut langsung dibuang ke laut.
    Namun dalam beberapa ketentuan internasional, ada ketentuan yang mengatur tentang batasan aktivitas ataupun konsentrasi radioaktiv yang boleh dilepaskan ke lingkungan “dengan sengaja”.

    Sebelum dibuang ke laut, tentunya air reaktor tersebut harus diolah terlebih dahulu untuk menurunkan ativitas ataupun konsentrasi dari zat radioaktiv dalam air, bisa dengan cara:
    1. didiamkan dulu hingga aktivitasnya mencapai nilai yang diizinkan untuk dibuang ke laut;
    2. diolah dengan cara absorbsi maupun adsorbsi zat radioaktiv dari air tersebut hingga pada batas aktivitas yang bisa dilepaskan ke laut;
    3. Bisa juga dengan cara pengendapan.

    Salam,
    AK


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: