Posted by: Akhmad KHUSYAIRI | April 8, 2011

Apakah masih relevan menggunakan isue KORUPSI untuk menolak PLTN?

Kebanyakan para penentang PLTN menggunakan argumentasi kondisi korupsi
pada kalangan pejabat negara.

Dari hasil survey yang dilakukan oleh Transparency International
(http://www.transparency.org/policy_research/surveys_indices/cpi/2010/results),
Indonesia menduduki peringkat 110 dengan index 2,8. Rusia menduduki
peringkat 154 dengan index 2,1, Iran menduduki peringkat 146 dengan
index 2,2, Ukraina pada peringkat 134 dengan index 2,4. Di Asia
Tenggara Vietnam pada posisi 116 dengan index 2.7.

Rusia, pasca terjadinya Chernobyl, belum pernah lagi ada kejadian
kecelakaan nuklir, meskipun tingkat korupsinya jauh dibawah Indonesia,
Iran yang menduduki posisi 146 juga jauh dari posisi Indonesia, namun
meskipun tersedat dalam proses pembangunan PLTN nya akhirnya berhasil
menyelesaikan dan mengoperasikannya, bahkan kini Iran menjadi salah
satu negra yang diperhitungkan oleh negara barat karena berhasil
membangun dan mengembangkan instalasi pengayaan uranium, hingga saat
ini barat belum berani mengerahkan kekuatan militer terhadap Iran.

Ukraina yang mendapat warisan nuklir banyak sekali dari Soviet, pasca
Chernobyl tidak pernah lagi mengalami kecelakaan nuklir, meskipun
disana masih ada reaktor yang bertype sama persis dengan reaktor
Chernobyl, beroperasi, toh masih aman juga meskipun korupsinya lebih
tinggi dari Indonesia

Vietnam, juga masih dibawah Indonesia, namun sekrang sudah masuk pada
tahap pembangunan PLTN.

Jadi, APAKAH MASIH RELEVAN JIKA KORUPSI DIGUNAKAN SEBAGAI ALASAN UNTUK MEMBANGUN PLTN ?

Salam,

AK


Responses

  1. Pak Akhmad,
    Kalau tidak keberatan, buatkan dong perbandingan keuntungan/kerugian serta baik/buruk antara Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dengan Pembangkit Listrik Tenaga Lainnya .., sehingga kami kami yang awam ini dapat memberikan pandangan dengan lebih baik,
    Salam,
    Kechik

  2. Terimakasih, insyaAllah nanti saya coba buatkan

  3. Perkenalkan nama saya Taki. Ingin berpendapat atas tulisan menarik ini dan masih hangat secara nasional.

    Kurang tepat bila “barat tidak berani menyerang Iran”, mungkin lebih tepatnya “mencari kondisi terbaik (bagi barat) untuk meredam persaingan adidaya dengan Iran”.

    Mungkin tidak lebih tepat menggunakan alasan korupsi alasan menolak membangun PLTN aku rasa, tapi mungkin pembangunan PLTN yang berkedok korupsi itu. Namun bila pembangunan PLTN tersebut dibutuhkan dan menunjang pembangunan negara pada tingkat nasional, regional, provinsi, kabupaten, dan/atau kota, maka bisa dibilang korupsi tersebut tidak dapat dibilang hal yang empiris dapat ditunjukkan karena bila korupsi yang terjadi mempercepat pembangunan indonesia, khususnya saat ini isu pembangunan PLTN, di Madura, dan mempercepat kawasan hingga berratuskali lipat, maka bisa dibilang asumsi korupsi (karena tidak ada bukti empiris/prasangka) tersebut, bisa saja salah.

    Sebenarnya penyikapan yang seharusnya mengenai permasalahan ini adalah perlu atau tidak dibangun dan sesuai atau tidak dengan regulasi. Bila perlu dan sesuai, mengapa tidak?

    Setuju dengan Bapak/Saudara Kechikputra.

    Mohon maaf bila ada kesalahan kata, hal ini murni dari sepengetahuan saya.

  4. Terimakasih pak Taki atas response nya.

    Sebagi informasi, tulisan ini muncul dari hasil diskusi kami dengan bebrapa kelmpok anti PLTN, dimana mereka menolak dengan menggunakan alasan Budaya Korupsi di Indonesia yang mempunyai potensi membahayakan pembangunan dan pengoperasian PLTN.

    Kalo dibalik, pembangunan PLTN mempunyai tendensi korupsi, saya kira tidak, kita para pegiat bidang energi memang melihat potensi nuklir cukup besar guna mengatasi krisis energi yang mengancam bangsa ini setelah 2016, jangankan masuk pada tahun 2016, sekarang saja krisi energi sudah mulai terjadi, banyak daerah yang mengalami pemadaman bergilir, hal ini tentunya akan menghambat proses pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bangsa.

    terkait dengan isue nuklir Iran, menurut analisis saya, jika suatu negra mampu melakukan proses pengayaan uranium sendiri, maka besar kemungkinan negara tersebut memproduksi senjata, memang Iran berkali2 mendekalir bahwa instalasi pengayaan uraniumnya untuk kebutuhan sipil, namun menurit analisis saya, jika dunia barat melakukan gerakan militer, saya yakin Iran sudah mempersiapkan persenjataan nuklirnya, dan hal ini bisa memicu terjadinya perang nuklir.

    terkait dengan usulan bpk Kechikputra, insyAllah dalam waktu dekat akan saya tulis dalam blog ini…

    Salam,
    AK

  5. Selamat malam Pak Akhmad,
    Terimakasih untuk tanggapannya, dan terimakasih sekali untuk kesediaannya membuatkan perbandingan antara Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dengan Pembangkit Listrik dengan bahan bakar lainnya. Akan bermanfaat buat kami, yang awam tetapi ingin memiliki pandangan yang baik tentang bahan bakar pembangkit listrik.
    Dari hari ke hari, saya memperhatikan perkembangan tentang Daiichi -Fukushima Reactors, dimana cara pikir saya sebagai orang awam menilai, bahwa ada kerumitan yang sulit terjembatani pada saat reactor nuklir terkena masalah, misalnya : karena dinding retak akibat panasnya uranium, pencemaran radio aktif pada air buangan juga sulit diatasi, kesulitan dalam menghentikan pengoperasian reactor, pencemaran radio aktif yang tidak dapat di deteksi dini oleh indera manusia, dan kesulitan lainnya.

    Saya rasa, korupsi hanyalah salah satu faktor yang kalah pentingnya dengan sensitifnya pengoperasian unit reactor nuklir, terutama dalam hal memanajemen pengoperasiannya, pengendalian limbahnya serta menjaga keselamatan / perlindungan bagi kehidupan manusia, serta kualitas alam disekitarnya.
    Terimakasih Pak Akhmad, untuk tanggapannya

    Pak Taki,
    terimakasih atas pandangannya,
    saya juga berpendapat sama, bahwa korupsi bukanlah ‘ issue pokok’ dari kekhawatiran kita terhadap reactor nuklir, tetapi, bahwa reactor nuklir memiliki beberapa kesulitan, dimana bila terjadi kendala,dapat menimbulkan resiko bagi kehidupan, yang sulit untuk dijembatani
    Salam,
    Kechik

  6. Salam Pak Kechik Putra,

    Terimakasih atas response nya,
    Kalo dari pandangan umum memang masalah yang dihadapi PLTN Fukushima memang agak sedikit rumit, namun kunci dari permasalahan ini sebenarnya adalah pada pasokan listrik sistem pendingin, jika pasokan listrik sistem pendingin memadai maka pembuangan panas sisa (decay heat) akan berjalan normal, dan over pressure pada reactor vessel tidak akan terjadi.
    Memang kalo dilihat dari desainnya, reaktor Fukushima I memiliki desain keselamatan yang dirancang pada tahun 60-an, dimana desain keselamtan era 60-an belum mempertimbangkan tsunami yang diluar desain mereka, sehingga seolah2 hal ini sulit diatasi.
    Berbeda halnya dengan kondisi PLTN yang dibangun pada era setelah itu, pada kompleks PLTN Fukushima selain ada PLTN Fukushima I (Daiichi) juga ada PLTN Fukushima II (Daini), dengan kondisi gempa dan tsunami yang sama, keduanya sama2 dihantam tsunami yang sama, kondisi PLTN Fukushima II (Daini) lebih aman dibandingkan PLTN pendahulunya.

    Terkait dengan masalah korupsi, saat ini banyak sekali opini yang dibangun oleh kelompok anti nuklir, dengan menggunakan alasan budaya korupsi sebagai daasar mereka untuk melakukan penolakan pembangunan PLTN, berdasarkan pengamatan saya, dari hasil survey Transparency International, maka masih banyak negara yang mempunyai indek korupsi dibawah Indonesia yang mengoperasikan PLTN dan hingga kini PLTN mereka tidak mengalami masalah akibat budaya korupsi mereka.

    Oleh karenanya, melalui tulisan ini (blog ini) saya mengajak pembaca untuk berdiskusi.

    Salam,
    AK

  7. Pak Akhmad,
    Korupsi yang pak Akhmad tuliskan, saya terjemahkan sebagai ‘membesarkan’ bilangan rupiah dari yang semestinya, jadi, bukanlah ‘menyunat’ biaya untuk pengoperasian serta pemeliharaan reaktor nuklir tersebut. Kalau persoalan membesarkan / membengkakkan biaya, itu adalah hal yang sudah biasa di negara kita ini. Sudah sedemikian terbiasanya, itupun, kita masih belum termasuk ‘corrupt country’ yaa, cuma peringkat 110 saja toh.
    Yang saya maksudkan, adalah, apakah kita siap untuk mengamankan lingkungan kita (terutama manusia) dari kemungkinan terburuk. Misalnya, mengosongkan areal radius sekian kilometer, yang benar benar tidak akan dipadati penduduk. Atau, memastikan, bahwa buangan air pendingin reaktor tidak akan mencemari laut produktif atau air tanah penduduk. Memastikan, bahwa kita memiliki sejumlah tenaga kerja yang trampil, loyal (setia pada konsekuensi),berani berkorban, berdedikasi dan memenangkan tanggung jawab terhadap pekerjaan dan kewajibannya lebih dari apapun nya dari apapun.

    Dari yang saya telusuri, terlihat sekali, bahwa sedikit saja teledor, reaktor nuklir akan berada dalam keadaan berbahaya.
    Daiichi Fukushima reactors, ketika sistem sirkulasi air pendinginnya mati, kurang dari 24 jam, sudah meledak, lalu ‘meleleh’. Betul, mereka hebat, bahwa sesudah meleleh, mereka bisa membuat reactor itu tidak meledak hancur. Sumberdaya mereka hebat, dari pimpinan sampai petugas lapangan, bahu membahu dalam rasa tanggung jawab serta rela berkorban yang luar biasa. Tidak kenal rasa takut dan pantang menyerah. Betul sekali Pak Akhmad, siapa bilang kita tidak mampu memiliki sumber daya yang seperti itu. Kita pasti bisa !!, demikianlah yang selalu kita nyatakan.
    Tetapi, apakah kita perlu menantang diri kita untuk hal tersebut, kalau alternatif lain masih ada, yang lebih aman, lebih mudah, lebih rileks, teledor dikit dikit gak apa apa gitu loh …
    Salam,
    Kechik

  8. ¨Yang saya maksudkan, adalah, apakah kita siap untuk mengamankan lingkungan kita (terutama manusia) dari kemungkinan terburuk. Misalnya, mengosongkan areal radius sekian kilometer, yang benar benar tidak akan dipadati penduduk.¨

    Dalam desain PLTN (khususnya PLTN setelah generasi kedua)selalu dipertimbangkan terjadinya kecelakaan terparah, bahkan dihitung pula frekwensi Core Damage Failure, dari postulasi kecelakaan terparah, maka dapat dihitung dampak terparah dari suatu desain, berdasarkan perhitungan itu maka ditetapkan zonasi untuk wilayah disekitar PLTN, hal ini diperlukan untuk melakukan tindakan, baik evakuasi maupun yang lain, jika terjadi kedaruratan. Berdaasarkan zonasi ini maka dibuat ketentuan zona mana yang bisa diuni oleh masyarakat umum.

    ¨Atau, memastikan, bahwa buangan air pendingin reaktor tidak akan mencemari laut produktif atau air tanah penduduk. Memastikan, bahwa kita memiliki sejumlah tenaga kerja yang trampil, loyal (setia pada konsekuensi),berani berkorban, berdedikasi dan memenangkan tanggung jawab terhadap pekerjaan dan kewajibannya lebih dari apapun nya dari apapun.¨

    Dalam desain sistem pendingin, pengambilan dan pembuangan air pendingin benar2 diperhitungkan, baik dari aspek pendinginan sistem sekunder maupun keselamatan lingkungan, sehingga diupayakan tidak berdampak negatif pada laut produktif maupun air tanah penduduk. Sedangkan untuk SDM, jika kita bercermin pada kinerja SDM kita yang menuntut prioritas dan dedikasi tinggi pada keselamatan, saya pikir SDM bangsa kita telah membuktikannya diberbagai sektor industri.

    ¨Dari yang saya telusuri, terlihat sekali, bahwa sedikit saja teledor, reaktor nuklir akan berada dalam keadaan berbahaya.¨

    Desain PLTN yang baru hampir tidak lagi memerlukan campur tangan manusia dalam pengoperasiannya, hanya hal-hal tertentu saja yang memerlukan campur tangan manusia, sehingga human error dapat diminimalisasikan.

    ¨Tetapi, apakah kita perlu menantang diri kita untuk hal tersebut, kalau alternatif lain masih ada, yang lebih aman, lebih mudah, lebih rileks, teledor dikit dikit gak apa apa gitu loh …¨

    Terkait dengan pemilihan energi alternatif, memang banyak hal yang harus dipertimbangkan, pemilihan energi nuklir pun menggunakan pertimbangan2 yang sangat kompleks disamping pertimbangan ekonomi.

    Salam,
    AK

  9. Selamat malam Pak Akhmad,
    Banyak terimakasih untuk seluruh jawaban yang diberikan.
    Saya kebetulan senang memperhatikan cuplikan video dari sebuah reactor nuklir, dan, cukup deg-degan juga melihat gambaran formasi sistem dengan peralatan didalamnya, serta pengoperasian peralatan yang computerise itu.
    Betulkah kita akan sanggup menempatkan orang orang dengan dedikasi serta tanggung jawab yang tinggi?, betulkah kita tidak akan saling mencari “siapa yang salah” apabila thing doesn’t work well nantinya, tetapi, perwira, bahu membahu menyelamatkan keadaan. Jika para ahli nuklir di negara ini percaya, dan sanggup menjamin bahwa tidak akan terjadi hal yang merugikan kehidupan nantinya, sanggup menjamin, bahwa ujung dari masalah yang timbul nanti, bukanlah saling menyalahkan atau tangkap menangkap,lalu pengadilan, dan cuci tangan, (sementara rakyat awam sudah sangat dirugikan), baiklah, marilah kita mulai membuka luas tentang rencana reaktor nuklir untuk Indonesia’

    Pendapat saya, jika kita memang sungguh sungguh akan membangun Reaktor Nuklir Pembangkit Listrik, mungkin akan sangat baik, jika dari sekarang, segala penjelasan, baik buruk yang transparan, untung rugi yang mudah dipahami, mulai disosialisasikan kepada kami, rakyat awam.
    Betul, mungkin, awalnya, akan banyak mendapatkan kritik, penolakan atau pandangan negatif. Tetapi, sesuatu yang baik, jika disosialisasikan dengan baik, dengan tujuan benar benar mencari tanggapan serta masukan untuk dipertimbangkan dengan baik, mudah mudahan akhirnya rencana tersebut bisa mendapat dukungan positif .
    Sebaik-baik sebuah rencana, yang terbaik adalah rencana yang dipahami serta mendapatkan dukungan positif dari masyarakat.
    Salam,
    Kechik

  10. Terimakasih kembali pak Kechik,
    Senang sekali saya mendapatkan teman diskusi seperti Bpk,

    “Betulkah kita akan sanggup menempatkan orang orang dengan dedikasi serta tanggung jawab yang tinggi?, betulkah kita tidak akan saling mencari “siapa yang salah” apabila thing doesn’t work well nantinya, tetapi, perwira, bahu membahu menyelamatkan keadaan. Jika para ahli nuklir di negara ini percaya, dan sanggup menjamin bahwa tidak akan terjadi hal yang merugikan kehidupan nantinya, sanggup menjamin, bahwa ujung dari masalah yang timbul nanti, bukanlah saling menyalahkan atau tangkap menangkap,lalu pengadilan, dan cuci tangan, (sementara rakyat awam sudah sangat dirugikan), baiklah, marilah kita mulai membuka luas tentang rencana reaktor nuklir untuk Indonesia’”

    Terkait dengan SDM, telah diatur dalam perundang-undangan negara kita (UU no 10 tahun 1997 dan turunannya) setiap pekerja yang terlibat dalam pengoperasian suatu reaktor, baik reaktor riset maupun daya(PLTN), harus memiliki kualifikasi tertentu dan harus lulus dalam suatu uji ilmiah dan teknis yang kemudian dia layak untuk mendapatkan Surat Izin Bekerja.
    Disamping itu, sebelum pemilik suatu instalasi nuklir membangun instalasinya, dia berkewajiban membuat Laporan Analisis Keselamatan (LAK), yang mana didalamnya selain dibahas masalah teknis, juga dibahas masalah Managemen, struktur organisasi, dimana dalam bab tsb dirinci siapa yang bertanggungjawab dalam suatu pekerjaan atau wilayah. Maka berdasarkan ketentuan yang ada, jika seseorang sudah mendapatkan tanggung jawab tertentu, dia tidak dapat lari dari tanggung jawab tsb.

    Salam,
    AK


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: