Posted by: Akhmad KHUSYAIRI | April 11, 2011

Kontaminasi pada basement, Parit-Parit Buatan, dan Terowongan Pipa.

Kontaminasi pada basement, Parit-Parit Buatan, dan Terowongan Pipa.

PLTN Fukushima I unit 1 dan 2 merupakan reakto type BWR yang dibangun tahun 1967 dan mulai beroperasi komersial pada 26 Maret 1971. PLTN Fukushima I memiliki beberapa parit buatan dan jalur pipa yang terhubung dari setiap unit reaktor ke gedung turbin dan kemudian ke laut. (lihat gambar 1).

Dalam desainnya parit-parit dibuat ada yang terbuka dan juga ada yang tertutup, pada beberapa titk, titik temu paritparit ataupun sambungan-sambungan pipa terbuka. Pasca terjadinya tsunami, upaya pemulihan krisis nuklir pada komplek PLTN Fukushima terus berjalan, Pada tanggal 27 Maret 2011, dalam proses pengerjaan pemulihan system catu daya untuk unit 2, TEPCO melaporkan bahwa air di basement gedung turbin unit 2 memiliki laju paparan radiasi yang sangat tinggi, Pada pengukuran awal, laju paparan radiasi mencapai 10 juta kali dari kondisi normal.

Pada tanggal 28 Maret 2011, Nuclear Safety Commission menyatakan bahwa kebocoran material radioaktif dicurigai berasal dari pelelehan sebagian batang bahan bakar yang terjadi pada reaktor unit 2 dan terbawa air dalam reactor vessel didalam containment, namun dalam proses pelepasannya ke lingkungan masih belum diketahu jalur pelepasannya. Air radioaktif tingkat tinggi ditemukan pada parit buatan pada 3 unit PLTN yang ada. Parit-parit ini terbentang dari masing-masing reaktor ke unit-unit lain dalam fasilitas, namun parit-parit buatan ini tidak terhubung langsung ke laut. Pada tanggal 30 Maret 2011, ketinggian air pada parit-parit yang unit 2 dan 3 berada pada posisi 1 meter dibawah level dimana akan terjadi aliran air ke laut. Sebagai bahan perbandingan, ketinggian air parit unit 1 berada pada posisi 10 cm dibawah overflow ke laut.

Level ketinggian air pada parit berkombinasi dengan potensi overflow nya ke laut yang berkomplikasi dengan usaha pendinginan karena air diperlukan untuk mendinginkan reaktor, bagaimanapun juga air yang sama diyakini telah mengisi parit-parit tersebut, Oleh karena itu, pendingin unit 2 yang menggunakan air murni dalam jumlah yang besar diperkirakan masuk pada parit-parit tsb, yang diikuti dengan overflow ke laut, sehingga memperburuk rilis radioaktif ke laut. Sebagai konsekwensinya, TEPCO mengurangi penggunaan air murni yang akan diijeksikan kedalam reaktor unit 2 dari 16 ton per jam menjadi 7 ton per jam. TEPCO menggunakan 2 metode untuk mencegah kebocoran air radioaktif level tinggi kedalam laut.

Dimulai pada tanggal 27 Maret 2011, operator berusaha memompa air dari hall basement turbin ke dalam kondenser (lihat gambar 2). Bagaimanapun juga pada akhirnya keduanya menjadi penuh.

Metode kedua yang digunakan oleh TEPCO adalah membatasi overflow ke laut. Dengan cara memasang penutup pada lubang kebocoran yang terletak didekat basement reaktor unit 2 dan diatas system parit.

Dari laporan yang ada, mengindikasikan bahwa kebocoran yang terjadi berasal dari loibang sebesar 20 cm, lubang ini terjadi akibat gempa 9 SR yang mengguncang instalasi pada tanggal 11 Maret lalu. Bagaimanapun juga, level radiasi diudara diatas lubang tersebut melebihi 1,000 mSv namun tidak diketahui laju dosis secara tepat, hal ini menghambat pekerja melakukan pekerjaan pemulihan sistem pendingin.

Upaya apapun dilakukan oleh TEPCO untuk menanggulangi kebocoran tersebut, TEPCO berusaha menggunakan karung pasir dan beton untuk menutup kebocoran tersebut. Namun pada tanggal 2 April 2011, TEPCO mengakui bahwa masih terjadi kebocoran pada titik yang sama. Pada hari yang sama TEPCO mengatakan bahwa mereka kembali berusaha menutup lubang tersebut dengan menggunakan 2.000 liter resin sintetis.

TEPCO berusaha menginjeksikan polimer penyerab air kedalam pipa , yang digunakan untuk menahan air. Namun pada tanggal 3 April 2011, pendekatan ini nampaknya gagal menutup atau memperlambat kebocoran.

Area pusat penyimpanan bahan bakar

Perangkat bahan bakar nuklir yang telah digunakan yang diambil dari reaktor pada awalnya disimpan dalam kolam penyimpanan bahan bakar nuklir bekas yang berdekatan dengan reaktor selama 18 bulan. Setelah itu perangkat bahan bakar nuklir bekas tersebut dapat dipindahkan kedalam kolam pusat penampung bahan bakar bekas. Kolam ini menampung 6.375 perangkat bahan bakar nukir bekas dan dilaporkan dalam kondisi äman¨ pada temperatur 55°C.

Setelah mendapatkan pendinginan lebih lanjut, bahan bakar dapat dipindahkan untuk disimpan dalam tangki penyimpan bahan bakar kering, hal ini dilakukan jika tidak terdapat anomali dalam bahan bakar nuklir bekas tersebut.

Pada tanggal 21 Maret 2011, terjadi peningkatan suhu pada kolam bakan bakar menjadi 61 °C oleh karena itu dilakukan penyemprotan air kedalam kolam.

Akhirnya pada tanggal 24 Maret 2011, sistem catu daya listrik kembali dapat dialirkan pada system pendingin dan pada tanggal 28 Maret 2011, dilaporkan bahwa suhu telah turun pada levek 35 °C.

Salam,

AK


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: