Posted by: Akhmad KHUSYAIRI | April 19, 2011

Masa Depan Nuklir Pasca Fukushima I

Sekilas awal terjadinya kecelakaan PLTN Fukushima I

TEPCO mempunyai dua komplek PLTN di Fukushima, yaitu komplek Fukushima I dan komplek Fukushima II. Komplek Fukushima I memiliki 6 unit reaktor pembangkit listrik bertype BWR. Unit 1 dibangun pada tahun 1967 dan dioperasikan komersial pada Maret 1971. PLTN Fukushima merupakan PLTN generasi pertama yang dikembangkan oleh General Atomic dengan desain terjadinya kecelakaan terparah yaitu Core Damage dengan frekwensi (CDF) 10 pangkat minus 4 per tahun, yang mempunyai arti kecelakaan terparah yang mengakibatkan terjadinya pelelehan teras akan terjadi satu kali dalam 10000 tahun operasi. Sedangkan pada reaktor nuklir generasi ketiga memiliki CDF sebesar 10 pangkat minus 6.

Kejadian gempa yang mengguncang Jepang pada tanggal 11 Maret lalu memicu sinyal SCRAM (sistem pemadam reaktor otomatis yang dipicu oleh banyak sensor, salah satunya sensor gempa) sehingga reaktor padam, namun dalam desain reaktor generasi pertama, setelah terjadinya pemadaman masih diperlukan sirkulasi sistem pendingin. Oleh karena itu diperlukan gen set diesel yang digunakan untuk menggerakkan pompa pendingin pada kondisi darurat. Akibat dari tsunami inilah yang menenggelamkan gen set sehingga gen set gagal memberikan pasokan listrik pada system pendingin.

Masa Depan Nuklir

Pasca terjadinya kecelakaan PLTN Fukushima, ada sebagain besar kelompok yang mengatakan bahwa kecelakaan ini merupakan akhir dari industri listrik berbasis nuklir yaitu PLTN. Sebagian masarakat yang merasa terancam dengan adanya reaktor nuklir memberikan dukungan pada pendapat ini.

 Menyikapi kejadian dan perkembangan PLTN Fukushima, pada periode 6 hingga 15 April 2011, Jurnal internasional The Economics melalui portal online-nya (http://www.economist.com/debate/days/view/684/print) mengadakan debat on line tentang masa depan energi nuklir dengan alasan The world would be better off without it. Atoms cannot be made to work for peace without making them available for war yang digagas oleh Tom Burke, salah seorang founding director dari E3G (Third Generation Environmentalism), disamping itu The Economist menghadirkan Ian Hore-Lacy, Director for public communications, World Nuclear Association yang kemudian dalam perdebatan on line tersebut diikuti dengan on line Voting. Dari hasil debat tersebut dihasilkan suara voting 39% mendukung penolakan energi listrik berbasis nuklir.

Disamping itu, sebagian lagi ada sekelompok masyarakat yang menyatakan bahwa perkembangan industri nuklir tidak terlalu terpengaruh kejadian PLTN Fukushima. Terdapat beberapa faktor lain yang mendorong adanya perubahan dalam perkembangan teknologi nuklir, seperti pertimbangan ekonomis, keandalan pasokan listrik, serta stabilitas pasoka yang tidak begitu terpengaruh akibat cuaca ekstrim yang menghambat pembangkit lain (batubara) dalam memenuhi kebutuhan bahan bakarnya.

Beberapa negara di dunia masih tetap menggunakan energi nuklir sebagai pemasok kebutuhan energi mereka, seperti, negara-negara bekas Uni Soviet, Perancis, UK, USA, bahkan negara timur tengah Iran juga telah menggunakan nuklir sebagai pembangkit listrik. Disamping itu saat ini beberap negara timur tengah juga telah berencana dan mulai membangun PLTN, diantaranya Saudi Arabia, Uni Emirat Arab. Di kawasan Asia Tenggara Malaysia dan Vietnam telah menyatakan akan membangun PLTN, sementara itu Laos telah memulai proses konstruksi PLTN.

Pendapat sebagian kelompok masyarakat ini didorong oleh pengaruh positif dari kecelakaan PLTN Fukushima I dan menyatakan bahwa kecelakaan PLTN Fukushima I justru menandai akan perubahan besar-basaran yang memulai industri nuklir yang baru dan lebih aman, baik dari sisi teknologi maupun dari sisi regulasi.

Pada kenyataannya tenaga nuklir tidak dapat dihindari keberadaannya dimuka bumi ini. Hingga saatnya dunia mempunyai energi alternatif baru yang lebih ekonomis dan lebih aman, energi nuklir tetap memegang peranan penting.

Adanya kecelakaan PLTN Fukushima I telah menunda perkembangan industri nuklir, tetapi dalam waktu yang bersamaan telah meningkatkan kesadaran untuk lebih menjaga segi keamanan. Dalam jangka panjang dapat dikatakan bahwa kecelakaan ini telah menbawa pengaruh positif terhadap keseluruhan industri nuklir.


Responses

  1. Pak Akhmad,
    betul sekali, saay sekarang ini, masyarakat dari negara pengguna PLTN, menolak untuk penggunaan PLTN.
    Sempat sedikit saya bertanya, ‘mengapa kasus ‘melt down’ Fukushima tidak berlanjut dengan meledaknya reaktor itu?, jawabannya, sebagian karena nasib baik dan sebagian lagi karena keajaiban.
    Jawaban yang lucu, tetapi, tidak apa, karena saya hanyalah pengintip yang awam.
    Selamat malam,
    Kechik

  2. Kasus “melt down” PLTN Fukushima tidak berlanjut dengan meledaknya reaktor itu?

    Kejadian Melt down nya PLTN Fukushima berbeda dengan kasus Chernobyl,
    Untuk kasus Chernobyl, pada saat terjadinya kecelakaan, reaktor dalam kondisi belum shut down alias masih beroperasi, sesaat sebelum kecelakaan, reaktor mengalami kejadian peningkatan daya yang sangat cepat, hal ini bisa terjadi karena “sifat” dari reaktor Chernobyl akan meningkat dayanya jika suhu air meningkat atau dalam ilmu nuklir disebut dengan positive void reactivity, sehingga kenaikan daya ini tidak terkendali dan akhirnya terjadilah ledakan.

    Sedangkan PLTN Fukhushima, ketika terjadi gempa 9 SR, dia otomatis shut down yang dipicu oleh sinyal gempa. setelah shut down dia masih memerlukan aliran air pendingin untuk membuat panas dari decay heat, ketika gempa terjadi pasokan listrik dari PLN Jepang padam, dan gen set darurat beroperasi. sekitar 1 jam setelah gempa, gen set beroperasi normal dan pendinginan reaktor terjadi secara normal, namun gempa ini diikuti oleh kejadian tsunami setinggi 14 meter, sebenarnya komplek PLTN Fukushima sudah dilindungi oleh dinding laut untuk menahan tsunami setinggi 5,7 m, namun akhirnya tsunami menghantam komplek ini dengan ketinggian 14 meter dan gen set terendam air, hal ini mengakibatkan pendinginan reaktor terganggu.
    Disamping itu desain PLTN Fukushima berbeda dengan Chernoby, jika suhu air meningkat maka jumlah reaksi fisi menurun, sehingga daya reaktor turun atau dalam ilmu nuklir disebut dengan negative void reactivity.

    Semoga uraian diatas bisa membantu,
    Tks

    Salam,
    AK

  3. Terimakasih, penjelasannya sangat membantu.
    Beberapa hari terakhir ini, saya memperhatikan, tampaknya Fukushima memburuk. Tetapi, Pemerintah Jepang kurang jujur, banyak menutupinya. Dua expert andalannya, yang menjadi penasihat Prime Minister, mengundurkan diri pada 30 April kemarin.
    So scarry, isn’t it?

    Ulasan Pak Akhmad selalu menarik, tetapi, yaa, saya juga heran, mengapa kurang sekali yang tertarik untuk bertnya jawab?, padahal, kejadian ini, kelihatannya, ada lah “awal” dari prototype manusia yang baru, yang akan menjadikan radioaktif sebagai teman hidupnya sehari hari
    Thanks for your concern,
    Kechik

  4. Terimakasih pak Kechik,

    Saya kurang tahu alasan mengapa 2 expert PM mengundurkan diri.
    Memang bidang yang saya tekuni ini tidak banyak menarik perhatian orang, mungkin kurang “komersil” kali..:)
    Hingga saat ini memang belum ada sumber daya energi lain yang mampumenjanjikan memasok kebutuhan energi duniadalam jumlah besar dan jangka pangjang. Nuklir merupakan salah satu sumber energi yang “lebih” menjanjikan dibandingkan sumber energi yang lain, namun dalam pengelolaannya harus dilakukan dengan kehati-hatian.

    Anyway terimakasih atas comment-nya

    Salam,
    AK


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: