Posted by: Akhmad KHUSYAIRI | May 25, 2011

PLTU dan PLTN, Sebuah Perbandingan Keselamatan

Salah satu sumber kekhawatiran masyarakat terkait dengan pengoperasian PLTN disebabkan oleh adanya kemungkinan kegagalan sistem yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan pada PLTN, seperti yang terjadi di TMI, Chernobyl dan Fukushima. Karakterisitik kecelakaan pada PLTN dapat dikategorikan sebagai insiden dengan “low probability, high consequences’. Suatu bencana masuk dalam kategori katastropic jika mengakibatkan sedikitnya 3.000 korban jiwa atau sedikitnya 45.000 orang cedera; maka probabilitas terjadinya kejadian katastropic sangat kecil, yaitu 1 kejadian tiap 107 tahun. Di samping katastropic, insiden-insiden dalam skala lebih kecil yang terjadi pada PLTN diperkirakan mengakibatkan kurang lebih 2 korban jiwa tiap 20 juta MWh per tahun listrik akibat efek stokasti yang menyebabkan terjadinya kanker, tumor, penyakit genetik dan lain-lainnya.
Dari tinjauan aspek keselamatan (safety) dari beberapa pilihan pembangkit listrik maka resiko keselamatan juga harus dipertimbangkan mulai daru tahap penambangan bahan bakar tersebut hingga proses pembakaran dalam instalasi pembangkit.
Di Amerika Serikat, hingga saat ini penggunaan teknologi PLTU telah menelan korban jiwa sebanyak 1.300 dan 40.000 orang cedera, sementara itu pengoperasian PLTN hingga saat ini memakan korban cedera sebanyak 5.000 orang dan korban jiwa kurang dari 100 orang.
Limbah nuklir hingga saat ini masih dianggap menjadi salah satu sumber kekhawatiran masyarakat umum terkait dengan pengoperasian PLTN. Sebuah PLTN yang mempunyai kapasitas pembangkit daya sebesar 1.000 MWe memerlukan kira-kira 1 metrik ton bahan bakar nuklir dan menghasilkan limbah kira-kira sebanyak 70 liter per hari. Sampai tahun 1980an, AS telah menghasilkan 36 juta ton limbah dengan radiasi rendah dan 8.300 ton limbah dengan radiasi tinggi. Jumlah ini sebenarnya menghasilkan dampak radiologis yang setingkat dengan ratusan juta ton sampah yang dihasilkan oleh PLTU. Hanya karena konsentrasi radiasi yang tinggi, limbah PLTN membutuhkan suatu penanganan yang khusus. Selama ini, sisa bahan bakar dengan radiasi tinggi disimpan sementara di kolam-kolam penampungan sehingga efek radiasi yang ditimbulkannya dapat diabaikan, tetapi dengan semakin meningkatnya pemakaian PLTN dalam produksi listrik, kebutuhan akan suatu metode penyimpanan permanen yang tepercaya terasa semakin mendesak. Meskipun sejauh ini belum ada satu cara yang dapat diterima secara meluas, beberapa metode yang diusulkan meliputi penyimpanan di tambang garam, lapisan granit, dibawah lapisan air tanah atau di dasar laut. Satu syarat mutlak yang telah dipenuhi oleh lokasi-lokasi ini terjaminnya kestabilan geologis untuk masa-masa yang akan datang.
Untuk PLTN, satu pertimbangan tambahan adalah adanya ancaman terorisme, meskipun sampai sekarang belum ada realisasinya. Meskipun menurut para ahli, penggelapan Plutonium untuk pembuatan bom nuklir sederhana lebih merupakan hayalan daripada kenyataan, hendaknya hal ini diperhitungkan juga dalam pemilihan jenis Pembangkit Tenaga Listrik dan lokasinya di masa mendatang. Tetapi dengan sikap waspada dan hati-hati yang selama ini dianut dalam lingkup penggunaan bahan nuklir dan fakta bahwa untuk Indonesia risiko ini adalah lebih kecil daripada di negara-negara lain yang lebih maju dan liberal, agaknya untuk saat ini hal tersebut hanya akan merupakan pertimbangan minor saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: